Seputar Garut


Garut: Longsoran tanah yang menutup jalan provinsi di Kecamatan Pamulihan dan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat petang sudah dibersihkan. Kendaraan sudah bisa melalui ruas jalan tersebut meski secara bergantian. Namun longsor, Sabtu (30/1), kembali terjadi yang mengakibatkan setengah badan jalan ambrol.

Longsoran baru yang menggerus setengah badan jalan dengan panjang sekitar 25 meter tersebut, membuat petugas harus kembali bekerja ekstra keras mengamankan arus kendaraan yang melewati jalur ini. Jurang sedalam 40 meter yang berada di pinggir jalan semakin membuat pengendara harus ekstra hati-hati melintas di kawasan ini.

Meski jalur ini berbahaya untuk dilewati, namun karena tak ada akses jalan lain sejumlah pengendara nekat melintas kawasan tersebut. Jika  kembali hujan deras yang turun di daerah itu dikhawatirkan dapat memunculkan longsoran baru. Apalagi pada bagian atas dinding tebing sudah terjadi retakan tanah.

Diketahui sebelumnya sejumlah tebing di jalan provinsi yang menghubungkan Garut dengan sejumlah kecamatan di Garut selatan longsor, pada Jumat (29/1) petang. Salah satu lokasi terparah adalah kawasan Gunung Halimun di Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan. Kawasan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan Kecamatan Pamulihan, Pakenjeng, Cisewu dan Telegong serta sejumlah kecamatan lainnya di Garut selatan.

Terputusnya jalan mengakibatkan ribuan warga di tujuh kecamatan sempat terisolasi. 

Proyek Mega Copong mulai juni 2010

Proyek raksasa  Mega copong dipastikan pembangunan fisiknya akan dikerjakan  mulai bulan juni 2010 menyusul ditetapkan 3 rekanan terpilih berkelas nasional yang tengah mengikuti proses aanwijzing lapangan.Dari 3 rekanan atau pemborong yang sudah mengikuti aanwijzing tersebut nantinya akan ditetapkan satu pemenang sesuai peraturan yang berlaku.Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Propinsi : JAWA BARAT Ir. Syafrudin, Dipl. HE saat berkunjung ke Garut kemarin mengatakan ”ke tiga rekanan terpilih tersebut masing masing   PT PEMBANGUNAN PERUMAHAN Joint DENGAN PT WIJAYA KARYA Jakarta Pusat, kemudian PT ADIKARYA DAN PT BRANTAS ADIPARYA ketiga rekanan tersebut adalah Badan Usaha Milik Negara”.  Dana pembangunan Mega copong berasal dari dana bantuan jica negara jepang sebesar  110  milyar rupiah ditambah dana yg bersumber dari APBN DAN APBD. Syafrudin menambahkan “pembangunan fisik  berupa bendung gerak  akan dipusatkan di lokasi copong  termasuk bekas Rumah Makan Copong Milik Haji Yaya Tohari” tambah Safrudin.  pihaknya mengharapkan pembebasan tanah bisa di selesaikan tahun ini  sehingga tidak mengganggu kelancaran pembangunan mega copong tersebut. Hingga kini tinggal 35 hektar  lahan tanah yang belum dibebaskan menurut Ir Syafrudin  untuk pembebasan tanah tahap kedua ini   dananya berasal dari propinsi dan Dana APBD Garut. (zr)

DPRD Kab Garut Minta Pemkab Operasi Pasar Murah Beras

Inseg – Dewan Perwakilan Rakyat DPRD mendesak Pemkab Garut untuk segera melaksanakan Operasi Pasar Murah OPM untuk penjualan beras kepada masyarakat, terkait dengan harga beras di Garut saat ini yang melambung mencapai angka Rp 7000 per kilogram. Sementara pembagian Raskin dari dolog pada bulan Januari ini belum terealisasi. Ketua DPRD Kabupaten Garut, Bajuri, menyatakan pelaksanaan operasi pasar murah ini sangat mendesak sebagai upaya menanggulangi kebutuhan masyarakat terhadap beras pada kondisi naiknya harga beras seperti sekarang ini. Dampak mahalnya harga beras dipasaran membuat warga desa sakawayana kecamatan Malangbong terpaksa haruis merubah pola makan nya sehari-hari. Salah seorang warga yang dibenarkan beberapa ketua RW di wilayah tersebut mengatakan perubahan pola makan tersebut diantaranya dengan mengganti makanan pokok dengan singkong rebus atau mencampurnya atau mencampurkan beras dengan jagung (nasi tiwul). Jika dibanding dengan harga beras harga singkong cukup terjangkau hanya Rp.1000,- hingga Rp. 1500,- perkilogram. Mereka mengatakan “ masih untung karena saat ini sedang musim panen jagung dan singkong jika tidak, entah bagaimana “ mereka berharap pemerintah segera melaksanakan Operasi Pasar beras Murah terkait dengan harga beras yang mencapai sudah Rp. 7000,- . yang tentunya dirasa sangat berat.

Naiknya harga beras dibeberapa tempat yang merangsek naik menjadi 7000 per kilonya diduga akibat permainan  tengkulak dengan menjual beras tesebut ke luar Garut.  Menurut Kepala Dinas  Ketahanan  Pangan Garut, Ir Tatang Sukmana, “sebenarnya Garut mengalami surplus beras yang mencapai 200 ton pertahunnya namun karena adanya permainan para tengkulak yang menimbun beras dan menjual beras keluar Garut maka otomatis terjadi lonjakan harga”.Namun pihaknya tidak akan melakukan operasi beras murah karena operasi pasar  akan dilakuakn bila terjadi kenaikan lebih  15 % , untuk mengantisipasi lonjakan harga akibat kenakan tengkulak pihaknya akan mengoptimalkan distribusi pangan milik petani yang baru ada di dua tempat yaitu kecamatan Cibalong dan kecamatan Leuwigoong.Selain kenaikan harga beras ternyata juga terjadi kelangkaan Kacang kedelai sebagai bahan baku tahu tempe dan tentunya ini berdampak pada kenaikan harga. Menurut sejumlah pengusah Tahu di wilayah Suci kecamatan Karangpawitan, harga kacang kedelai saat ini terus meningkat. Jika sebelumnya antara Rp 5000,- hingga Rp. 5200,- perkilogram, namun saat ini mendekati angka Rp.6000,-. Para pengusaha tahu tempe menyatakan akibat dari kenaikan harga tersebut berdampak pada pengurangan produksi. Semula mereka bias menghabiskan kacang kedelai sekitar 200 kg perharu. Namun kini mereka hanya bisa membeli sebanyak 50 kg saja. Menyikapi hal ini pengusaha mengakalinya dengan merubah ukuran hasil produksinya untuk mengurangi kerugian.

Jeruk Garut Mulai Menggeliat

Inseg – Petani Jeruk di Garut bekerja sama dengan Pemerintah daerah berupaya meningkatkan pembinaan dan penanaman jeruk keprok Garut yang sudah lama dinyatakan punah.
Inseg – Peningkatan budidaya tersebut terkait meningkatnya pula permintaan terhadap jeruk keprok Garut. Dari catatan di dinas Pertanian selama tahun 2004 jumlah tanaman jeruk keprok ini mencapai 249.461 batang pohon dengan laus tanah kebun 699,92 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari jumlah tersebut tanaman yang sudah berproduksi sebanyak 140.000 pohon dan telah menghasilkan rata-rata 6,7 ton pertahun. Setiap pohon rata-rata menghasilkan jeruk pada setiap musim panennya mencapai 48.5 kg. Sementara animo masyarakat terhadap jeruk keprok Garut ini juga cukup tinggi terutama di kota kota besar. 

50% Guru di Cibalong Bersatus Sukwan

Inseg – Cibalong sebanyak 150 guru yang mengajar pada 32 sekolah dasar di kecamatan Cibalong hanya 70 orang yang berstatus PNS, sementara sisanya yakni sebanyak 80 orang selain masih berstaus sukwan juga diberi tanggung jawab penuh. Seperti disampaikan Kepala UPTD pendidikan Cibalong, Drs. Dadang. Dikatakan Dadang
Dikatakan Dadang “jika dibandingkan dengan kebutuhan Guru di wilayahnya dengan jumlah yang ada saat ini bias dikatakan masih sangat kurang”.
“ untuk pengangkatan guru menjadi PNS dari tenaga Sukwan agar diprioritaskan dari daerah terpencil” harap Dadang.

Pasca Gempa Peresrta Jamkesmas Melonjak

Inseg – Peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat Jamkesmas mengalami peningkatan yang cukup signifikan terutama pasca gempa diwilayah Garut.
Kepala bagian Agama dan Kesejahteraan serta Sosial Pamkab Garut, Drs Rahmat Wijaya, mengatakan kenaikan tersebut paling mencolok menjelang akhir tahun 2009 lalu yang mencapai 5000 Jiwa padahal sebelumnya yakni di awal tahun 2009 jumlah peserta jamkesmas tersebut berkisar antara 822.000 jiwa. Kenaikan tersebut dipacu adanya bencana Gempa Bumi yang sempat merobohkan sejumlah bangunan rumah dan sekolah termasuk korban jiwa baik yang menderita luka ataupun meninggal.
Jumlah peserta Jamkesmas di Kabupaten Garut saat ini mencapai 603.000 Kepala keluarga.

Inseg – Tiga buah Instalasi Pengendalian Air Limbah IPAL indusri penyamakan kulit Sukaregang  milik pemkab Garut belum berfungsi. Pasalnya disinyalir masih banyaknya  pengusaha penyamakan kulit yang tidak menggunakan nya. Kepala Badan Lingkungan Hidup Garut, Miftah Rahmat, menjelaskan hal tersebut berakibat tingkat pencemaran air oleh pembuangan limbah industri penyamakan kulit Sukaregang terus meningkat serta berdampak pada kelestarian lingkungan. Biaya pembangunan  IPAL tersebut di danai  oleh Pemerintah Pusat dalam upaya membantu masyarakat agar tidak terjadi dampak pencemaran air sumur dan lingkungan akibat limbah olahan tersebut. Belum diperoleh keterangan tentang kapan muali difungsikannya ke 3 IPAL  tersebut. Sementara sehari hari dua buah sungai yang mengalir ke kawasan Garut Kota masih dijadikan pembuangan limbah penyamakan kulit  yang mencemari airnya  serta mengeluarkan bau tidak sedap. (CA)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: