Terowongan Maya di Langit


Seorang pilot yang tengah menerbangkan pesawat, terusik oleh suara peringatan di kokpit. Pengecekan pada semua indikator “warning” sistem pesawat menunjukkan semua sistem berfungsi normal. Hingga kemudian pilot menyadari alarm tersebut peringatan bahwa posisi pesawat berada di batas penyimpangan lateral (menyamping) track terbang yang seharusnya. Peringatan aural tersebut dikuatkan dengan indikasi pesan peringatan yang ditampilkan salah satu display di kokpit panel.

Kejadian ini mungkin bisa terjadi pada seorang penerbang yang tengah menyusuri rute terbang (en-route) RNP (required navigation performance). Rute terbang RNP adalah jalur terbang dengan batas penyimpangan lateral (kiri-kanan) tertentu. Dengan batas atas-bawah level terbang yang telah ditentukan, sebuah rute en-route RNP ibarat terowongan (maya) yang membentang dari titik keberangkatan hingga tujuan. Jika suatu saat pesawat ”menyentuh” dinding terowongan, yang harfiahnya pesawat berada pada batas penyimpangan, penanda peringatan akan aktif.

Lebar ”terowongan RNP” identik dengan toleransi simpangan RNP, yang ternyatakan sebagai angka penunjuk tipe RNP. RNP 1 memberi toleransi deviasi ke kiri atau kanan sebesar 1 nautical mile (sekitar 1,85 kilometer), sementara RNP 4 deviasi terjauhnya 4 nanometer atau 7,4 kilometer. Saat terbang RNP, selama minimal 95 persen waktu terbangnya pesawat dituntut mampu menjaga posisinya hingga tidak melewati batas simpangan yang ditoleransi.

Metode navigasi RNP merupakan pengembangan RNAV (area navigation), yaitu metode navigasi yang memungkinkan pesawat beroperasi pada lintasan yang diinginkan sejauh masih dalam jangkauan stasiun navaid (navigation aids; VOR, DME, NDB) atau dalam batas kemampuan sistem deteksi posisi yang terpasang di pesawat (perangkat inertial navigation system atau INS dan GPS), atau kombinasi keduanya. Ini berbeda dengan metode konvensional yang mengharuskan pesawat menuju tujuan dengan terbang dari satu stasiun ke stasiun navaid lain.

Aspek tambahan untuk RNP adalah keharusan pesawat memiliki kemampuan memantau kinerja (performance) navigasi terbangnya secara mandiri, menggunakan instrumen yang terpasang on-board di pesawat. Juga harus dilengkapi sistem peringatan untuk indikasi penyimpangan. Kelaikan suatu pesawat untuk terbang RNP ditetapkan oleh otoritas penerbangan.

Implementasi RNP memungkinkan perbaikan pada beberapa aspek pengaturan lalu lintas udara. Akurasi terbang pesawat yang terjaga secara ketat akan menurunkan potensi konflik antarpesawat di suatu wilayah udara. Sementara penyusunan rute terbang yang fleksibel memungkinkan titik keberangkatan dan tujuan dihubungkan oleh lintasan terbang yang lurus (sehingga jarak tempuh lebih pendek). Di sini operator akan diuntungkan, karena kebutuhan bahan bakar pesawat dan waktu tempuh berkurang.

RNP berakurasi tinggi (RNP 0,3 dan RNP 0,1) juga telah diimplementasikan untuk prosedur keberangkatan  (SID/standard instrument departure) dan kedatangan (STAR/standard terminal arrival) pesawat di bandara. Dengan RNP approach penurunan ketinggian menjelang pendaratan (zona terminal) dapat dilakukan secara lebih mulus dan linear (continuous) dibandingkan dengan prosedur konvensional (menggunakan  instrumen landing system). Penelitian menunjukkan implementasi RNP untuk prosedur pendaratan dan keberangkatan di bandara dapat menurunkan konsumsi bahan bakar pesawat, emisi polutan, dan tingkat kebisingan bandara dalam skala yang signifikan.

Dengan sejumlah kelebihannya, implementasi RNP diyakini akan membuat pengaturan operasi penerbangan di wilayah udara atau bandara dengan lalu lintas udara padat lebih efisien. Potensi ini mendasari keputusan otoritas penerbangan Amerika, FAA, menetapkan RNP sebagai bagian dari rancangan pengaturan transportasi udara masa depan (NextGen Air Transportation System). Kelak, ditargetkan terwujud tahun 2025, RNP akan diimplementasikan sebagai sistem yang terintegrasi dengan komponen NextGen ATS lain, yaitu sistem komunikasi dengan interaksi berformat data digital dan sistem surveilans berbasis satelit (ADS-B). Di luar Amerika metode navigasi terbang RNP secara terbatas telah diimplementasikan di beberapa negara, antara lain Kanada, Selandia Baru, Australia, dan Cina. ***

Penulis: M. Nurdin Suhar, karyawan PT Dirgantara Indonesia.

»
%d blogger menyukai ini: